PSIKOLOGI BELAJAR PAI
DOSEN PENGAMPU : WAHDAH, S.Ag, M.Pd

Disusun Oleh :
Abdul Bari - 161410899
Ayu Safitri - 151410
Sulton Pebri - 151410894
FAKULTAS AGAMA ISLAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan taufikNya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Memahami Subjek Didik Secara
Holistik”. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Qudwah kita
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sebab beliau
syari’at Islam yang mulia dapat kita rasakan.
Adapun
tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Belajar PAI dan untuk menambah wawasan pengetahuan.
Dan
tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu terciptanya makalah ini, begitu pula tak lupa kami mengucapkan terima
kasih kepada Ibu Wahdah, S.Ag, M.Pd selaku pembimbing sekaligus Dosen Pengampu
Mata Kuliah Psikologi Belajar PAI.
Kami
menyadari bahwa makalah ini tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca maupun semua pihak guna penyempurnaan makalah ini. Kami berharap kepada
pembaca yang budiman agar mencari referensi lain guna memperluas pengetahuan.
Kami memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari
kesalahan-kesalahan kami.
Pontianak, 01 November 2016
Penulis
: Kelompok 4
|
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar………………………..........................................................................................ii
Daftar
Isi……………………………………………………………...........................................iii
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................................1
BAB II MEMAHAMI
SUBJEK DIDIK SECARA HOLISTIK...................................................2
A.
Individu Sebagai Suatu Kesatuan Psiko-fisik....................................................................2
B.
Gejala-gejala Berkembangnya Berbagai Aspek dalam Diri
Individu Subjek Didik..........4
C. Perbedaan Karakteristik Individual
Subjek Didik.............................................................7
BAB III
PENUTUP.......................................................................................................................10
Kesimpulan....................................................................................................................................10
Daftar
Pustaka................................................................................................................................11
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai seorang calon pendidik,
kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang cukup. Begitu pula kita harus
bisa memahami subjek didik secara menyeluruh, agar pendidikan berlangsung
dengan baik dan secara maksimal. Banyak para pendidik yang belum memahami subjek
didik secara menyeluruh. Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem
pembelajaran tanpa melihat kondisi subjek didiknya. Hal ini akan berakibat adanya
ketidakseimbangan antara sistem pembelajaran dengan perkembangan anak yang akan
menyulitkan anak didik mengikuti sistem pembelajaran yang ada. Dengan mempelajari
bagaimana memahami subjek didik secara holistik, kita akan mudah mengetahui sistem
pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan perkembangan anak
didik. Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi - generasi
masa depan yang berkualitas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian memahami subjek didik secara holistik?
2. Bagaimana individu sebagai suatu kesatuan psiko-fisik?
3.
Bagaimana gejala-gejala
berkembangnya berbagai aspek dalam diri individu subjek didik?
4.
Apa perbedaan
karakteristik individual subjek didik?
|
BAB II
MEMAHAMI SUBJEK DIDIK SECARA HOLISTIK
Memahami subjek didik
secara holistik mengandung makna bahwa guru harus mengetahui dan mendalami
berbagai karakteristik yang ada di dalam subjek didiknya secara menyeluruh yang
merupakan suatu kesatuan. Ini sangat penting karena aktivitas peserta
didik dalam pembelajaran sesungguhnya melibatkan keseluruhan karakteristik yang
mereka miliki yang berfungsi secara berkaitan antara satu dengan yang lain
dalam satu kesatuan.
Keterkaitan fungsi berbagai karakteristik dalam
satu kesatuan aktivitas subjek itu menghasilkan proses belajar yang mereka
lakukan. Mengabaikan atau menafikan salah satu atau sebagian dari karakteristik
subjek didik dalam suatu sistem proses pembelajaran akan berakibat timbulnya
ketimpangan proses belajar yang mereka lakukan. Akibatnya mereka tidak akan
dapat melakukan proses belajar secara maksimal. Pemahaman berbagai karakteristik
subjek didik secara holistik ini akan
mengantarkan para guru atau pendidik kepada pemahaman dan penghayatan secara
mendalam tentang keberadaan individual subjek didik. Ini akan sangat bermanfaat
bagi guru atau pendidik karena dengan demikian mereka akan mampu
menyelenggarakan proses pembelajaran secara arif dan bijaksana.
Berikut ini dipaparkan pembatasan berbagai
pandangan klasik berkenaan dengan pemahaman terhadap subjek didik sebagai suatu
kesatuan berbagai karakteristik secara holistik.
A.
Individu Sebagai Suatu Kesatuan Psiko-fisik
Pandangan bahwa
manusia adalah sebagai individu yang merupakan satu kesatuan dari aspek
fisik/jasmani dan psikis/rohani/jiwa yang tidak dipisahkan, sesungguhnya sudah
berkembang pada pemikiran para fiolsof klasik sejak masih zaman Yunani Kuno. Mereka
berpandangan bahwa fisik atau jasmani merupakan aspek yang bersifat kasat mata,
konkret, dapat diamati, dan tidak kekal, sedangkan
psikis/rohani/jiwa merupakan aspek yang sifatnya abstrak. immaterial, tidak
dapat diamati dan kekal.
|
Para Filosof klasik itu kemudian mengembangkan
perenungan dan sampai kepada kesimpulan bahwa jiwa itu dapat dibagi menjadi
beberapa bagian. Plato (427-347 SM), misalnya, sebagai filosof yang amat
tersohor membagi jiwa menjadi tiga aspek kekuatan yaitu :
1.
Pikir atau kognisi berlokasi di kepala.
2.
Kehendak berlokasi di dada.
3.
Keinginan berlokasi di perut.
Pembagian jiwa oleh plato ke dalam tiga aspek
ini kemudian dikenal dengan istilah”trikhotomi” (tida dalam satu). Pandangan
plato dengan trikhotomi itu kemudian diikuti oleh para filosof terkenal
lainnya, dianatarnya adalah Jean jaques Rousseau, J.N. Tetens dan Immanuel
Kant.
Karena menariknya perenungan tentang jiwa
manusia itu maka pengkajian terus-menerus dilakukan. Pada perkembangan
berikutnya salah seorang filosof terkenal yang merupakan murid plato yaitu
Aristoteles (384-322 SM) mengemukakan hasil perenunganya tentang pembagian jiwa
yang agak berlainan dengan gurunya. Menurut Aristoteles, gejala jiwa tidak di
bagi dalam tiga aspek melainkan menjadi dua aspek saja, yaitu:
1.
Kognisi disebut juga sebagai budaya mengenal,
berpusat pada piker.
2.
Konasi, disebut juga gejala menghendaki,
berpusat pada kemauan.
Pandagan Aristoteles yang melakukan pembagian
gejala jiwa menjadi dua ini kemudian dikenal dengan istilah “dikhotomi” (dua
dalam satu). Pengikut dikhotomi yang terkenal adalah Criastian Wolf (Jerman,
1670-1754).
Perlu ditegaskan disini bahwa pembagian jiwa
dengan pendekatan trikhotomi dan dikhotomi ini merupakan hasil perenungan
filosofis sehungga sifatnya teoritis. Dalam kenyataannya, jiwa itu tidak dapat
dipetak-petak atau dibagi-bagi. Oleh karena itu pada perkembangan berikutmya,
terutama sejak zaman abad pertengan, para filsuf pada era itu meulai menyadari
dan semakin mengembangkan pemikiran dan pengkajian tentang jiwa manusia.
Padangan para filosof pada abad pertengan tentang aspek jasmani dan rohani
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.
Antara jasmani dan rohani itu merupakan suatu
kesatuan sehingga tidak dapat dibagi atau dipisahkan sama sekali. Pandangan ini
kemudian dikenal dengan istilah pandangan “monoisme”.
2.
|
Meskipun disadari bahwa aspek jasmani dan
rohani merupakan satu kesatuan, tetapi antara jasmani dan rohani itu dapat
berdiri sendiri. Pandangan ini keudian dikenal dengn pendekatan ”dualism”.
Padangan monoisme maupun dualism sama-sama
sepakat bahwa individu merupakan satu kesatuan jasmani dan rohani yang tidak
dapat dipisahkan. Sebab tidak mungkin seseorang berpikir tanpa unsur kemauan
dan tidak mungkin seseornag menginginkan sesuatu tanpa ada unsur berpikir.
Bahkan ketika pikiran sedang sibuk, roman muka yang bersifat fisik itu tanpak
berbeda dengan keadaan pada saat pikiran sedang santai. Keadaan jiwa yang
tengah gembira karena tengah mendapatkan suatu keberuntungan akan tercermin
pada gerak langkah dan ekspresi seseorang. Sebalikya seseorang yang sedang
mendapatkan kesusahan atau mendapatkan ketidak-beruntungan juga akan Nampak
pada ekspresi wajahnya.
B.
Gejala-gejala Berkembangnya Berbagai Aspek
dalam Diri Individu Subjek Didik
Karena manusia
itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan antara aspek jasmani dan
rohani, maka perkembangan bebagai aspek dalam diri individu itu akan tampak
gejala-gejalanya. Adapun sejumlah gejala-gejala yang biasanya tampak sebagai
gambaran berkembangnya berbagai aspek dalam diri individu itu adalah sebagai
berikut.
1.
Aspek Jasmani atau Fisik Gejala
yang tampak
pada aspek fisik sebagai perwujudan dari adanya perkembangan dalam diri
individu antara lain:
a.
Pertumbuhan payudara pada wanita
b.
Lekum pada remaja pria Kulit yang makin halus
pada wanita
c.
Otot yang makin kuat dan kekar pada pria
2.
Aspek Intelek
Gejala yang
tampak sebagai perkembangan individu dalam aspek intelek antara lain:
a.
|
Perubahan secara kuantitatif dan kualitatif
mengenai kemampuan anak dalam mengatasi berbagai masalah. Perubahan secara
kuantitatif berarti semakin banyak hal-hal yang dapat diatasi, sedangkan
perubahan kualitatif berarti semakin dapat mengatasi hal-hal yang lebih sulit.
b.
Semakin berkurangnya berpikir konkrit dan
semakin berkembangnya berpikir abstrak. Berpikir konkrit ialah berpikir yang
terikat pada bendanya dan sangat memerlukan bantuan alat peraga jika benda asli
tidak ada, sedangkan berpikir abstrak ialah berpikir yang tidak terikat pada
bendanya.
c.
Semakin berkembangnya kemampuan memecahkan
masalah-masalah yang bersifat hipotetik. Artinya, semakin mampu membuat
perencanaan, penaksiran, atau bahkan prakiraan kecenderungan sesuatu di masa
yang akan datang.
3.
Aspek Emosi
a.
Gejala yang tampak sebagai perkembangan pada
aspek emosi antara lain:Ketidak stabilan emosi pada anak remaja.
b.
Mudahnya menunjukkan sikap emosional yang
meluap-luap pada anak remaja, seperti: mudah menangis. mudah marah, mudah
tertawa terbahak-bahak.
c.
Semakin mampu mengendalikan diri.
4.
Aspek Sosial
Gejala yang
tampak sebagai perkembangan dari aspek sosial antara lain:
a.
Semakin berkembangnya sikap toleran, empati,
serta memahami dan menerima pendapat orang lain.
b.
Semakin
santun dalam mennyampaikan pendapat dan saran kepada orang lain.
c.
Adanya keinginan untuk selalu bergaul dan
bekerja sama dengan orang lain.
d.
Semakin senang menolong siapa saja yang
memerlukan pertolongan.
e.
Adanya kesediaan memberikan sesuatu yang dibutuhkan
orang lain.
f.
Semakin mampu bersifat ramah, sopan dan
menghargai orang lain.
5.
Aspek Bahasa
Gejala yang
tampak sebagai perkembangan pada aspek bahasa antara lain:
a.
Bertambahnya perbendahaan kata.
b.
|
Semakin bertambah mahir dan lancar dalam menggunakan
bahasa dengan memilih kata-kata seacra tepat, penggunaan tekanan kalimat dengan
tepat, dan membuat variasi kalimat.
c.
Dapat memformulasi bahasa dengan baik dan benar
untuk menjabarkan sesuatu idea tau konsep.
d.
dapat memformulasikan bahasa secara baik dan
benar untuk meringkas ide ke dalam deskripsi singkat.
6.
Aspek Bakat Khusus
Bakat merupakan
kemampuan potensial yang dibawa sejak lahir dan apabila ditunjang dengan
fasilitas dan usaha belajar yang minimal pun dapat mencapai hasil secra cepat
dan masksimal. Oleh karena itu jika bakat khusus telah diketahui secara dini,
usaha-usaha pendidika akan dapat dilaksanakan dengan mudah sehingga hasil
belajarpun menjadi sangat memuaskan. Seseorang dikatakan memiliki bakat khusus
tertentu, jika dapat membuktikan bahwa dirinya mampu dengna mudah mempelajari
suatu bidang tertentu dengan cepat dan dengan hasil yang memuaskan. Gejala yang
tampak berkaitan dengan perkembagan aspek khusus ini adalah semakin jelasnya
bakat khusus yang dimiliki oleh seseorang yang ditandai dengan sangat cepatnya
serta masksimalnya hasil yang dicapai. Banyak juga orang yang tidak pernah
menunjukkan hasil terbaik pada bidang tertentu, tetapi mampua mempelajari apa
saja yang diajarkan kepadanya. Orang demikian dikatakan memiliki bakat umum.
7.
Aspek Moral, Nilai, dan Sikap
Gejala yang
tampak pada perkembangan nilai, moral, dan sikap ini antara lain adalah:
a.
Terbentuknya pandangan hidup yang semakin jelas
dan tegas.
b.
Berkembannya pemahama tentang apa yang baik dan
yang seharusnya dilakukan serta apa yang dianggap tidak baik dan tidak boleh
dilakukan.
c.
Berkembang nya sikap untuk menghargai dan
menghormati nilai-nilai, norma-norma yang berlaku serta mewujudnya dalam
keidupan sehari-hari.
d.
Berkembangnya sikap menentang terhadap
kebiasaan-kebiasaan yang dianggap tidak sesuai lagi dengan norma yang berlaku.
|
C.
Perbedaan Karakteristik Individual Subjek Didik
Manusia
diciptakan secara unik, berbeda satu
dengan yang lain, dan tidak ada satupun yang memiliki ciri-ciri persis sama
meskipun mereka itu kembar identik. Setiap individu pasti memiliki
karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individual ini
merupakan kodrat manusia yang bersifat alami. Berbagai aspek dalam diri
individu berkembang melalui cara-cara yang bervariasi dan oleh karena itu
menghasilkan perubahan-perubahan karakteristik individual yang bervariasi pula.
Perbedaan perkembangan berbagai karakteristik
individual itu tampak dalam aspek-aspek yang ada pada setiap diri individu sebagaimana
dijelaskan berikut ini.
1.
Perbedaan Aspek Individual Pada Aspek Fisik
Perbedaan
perkembangan karakteristik secara individual pada aspek fisik tampak dengan
gejala-gejala :
a.
Ada anak yang lekas lelah dalam pekerjaan
fisik, dan ada anak yang tahan lama.
b.
Ada anak yang memapu bekerja secara fisik
dengan cepat, tetapi ada juga anak yang bekerjanya sangat lambat.
c.
Ada yang tahan lapar tetapi ada yang tidak
tahan lapar.
2.
Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek
Intelek
Perbedaan
perkembangan karakteristik secara individual pada aspek intelek tampak dengan
gejala-gejala :
a.
Ada anak yang cerda, ada juga anak yang kurang
cerdas, bahkan ada anak yang sangat kurang cerdas
b.
Ada yang dapat dengan segera menyelesaikan
masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan intelektual, tetapi ada yang lambat,
bahkan ada yang tidak mampu menyelesaikan suatu masalah yang mudah sekalipun.
Ada yang sanggup berpikir abstrak dan kreatif, tetapi ada yang hanya sanggup
berpikir hanya jika disodorkan wujud bendanya atau dengan bantuan benda tiruan.
|
3.
Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek
Emosi
Perbedaan
perkembangan karakteristik secara individual pada aspek emosi tampak dengan
gejala-gejala :
a.
Ada anak yang mudah sekali marah, tetapi ada
pula yang penyabar.
b.
Ada anak yang perasa, tetapi ada juga yang tidak
mau peduli.
c.
Ada anak
yang pemalu atau penakut, tetapi ada juga anak yang pemberani.
4.
Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek
Sosial
Perbedaan
perkembangan karakteristik secara individual pada aspek sosial tampak dengan
gejala-gejala :
a.
Ada anak yang mudah bergaul dengan teman,
tetapi ada juga yang sulir bergaul dengan teman-temannya.
b.
Ada yang mudah toleransi dengan teman, tetapi
ada juga yang egois.
c.
Ada anak yang mudah memahami perasaan temannya,
tetapi ada juga yang maunya menang sendiri.
d.
Ada anak yang mempunyai kepedulian sosial yang
tinggi, tetapi ada pula yang tidak peduli dengan lingkungan sosialnya.
e.
Ada anak yang selalu memikirkan kepentingan
orang lain, tetapi ada juga anak yang hanya memikirkan kepentingan dirinya
sendiri.
5.
Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek
Bahasa
Perbedaan
perkembangan karakteristik secara individual pada aspek bahasa tampak dengan
gejala-gejala :
a.
Ada anak yang dapat berbicara lancar, tetapi
ada juga anak yang mudah gugup.
b.
Ada anak yang dapat berbicara secara ringkas dan jelas, tetapi ada juga yang berbelit-belit
dan tidak jelas.
c.
Ada anak yang mampu berbicara dengan intonasi
suara menarik, tetapi ada pula yang monoton.
|
6.
Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek
Bakat
Perbedaan perkembangan
karakteristik secara individual pada aspek bakat tampak dengan gejala-gejala :
a.
Ada anak yang sejak kecil dengan mudah belajar
memainkan alat-alat musik, tetapi ada juga yang sudah hampir dewasa tidak juga
mampu memainkan satu jenis alat musik pun.
b.
Ada anak yang sejak kecil begitu mudah dan
kreatif melukis segala sesuatu yang ada disekelilingnya, tetapi ada juga yang
sangat sulit kalau harus melukis.
c.
Ada anak yang dengan cepatnya menghafal dan
menyanyikan lagu dengan baik, tetapi ada juga anak yang sudah latihan berkali-kali
masih saja sumbang.
7.
Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek
Nilai, Moral, dan Sikap
Perbedaan
perkembangan karakteristik secara individual pada aspek nilai, moral, dan sikap
tampak dengan gejala-gejala :
a.
Ada anak yang begitu taat dengan norma, tetapi
ada anak yang begitu mudah dan enak saja melanggar norma.
b.
Ada anak yang perilakunya bermoral tinggi,
tetapi ada anak yang perilakunya tak bermoral dan tak senonoh.
c.
Ada anak yang penuh sopan santun, tetapi ada
anak yang perilaku maupun tutur bahasanya seenak sendiri saja.
|
Dari uraian di atas jelas bahwa setiap aspek
menunjukkan karakteristik individual yang berbeda sehingga setiap individu
sebagai kesatuan jasmani dan rohani mewujudkan dirinya secara utuh dalam keunikannya.
Keunikan dan perbedaan individual itu dipengaruhi perbedaan faktor pembawa dan
lingkungan yang yang di miliki oleh masing-masing individu. Perbedaan
individual tersebut membawa implikasi imperative terhadap setiap layanan
pendidikan untuk memperhatikan karakteristik anak didik yang unik dan
bervariasi tersebut. Menyamaratakan layanan pendidikan terhadap individu yang
memiliki karakteristik berbeda satu sama lain berarti mengingkari hakikat dan
kodrat kemanusiaanya sehingga akan berakibat diperolehnya hasil yang kurang
memuaskan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
|
DAFTAR PUSTAKA
1. Muhammad Asrori. 2008. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana
Prima
3.
|
http://www.slideshare.net/dediyulianto370/memahami-subjek-didik-secara-holistik
Komentar
Posting Komentar